MAKALAH IAD,IBD,ISD
CINTA KASIH MENURUT PANDANGAN ISLAM
Diajukan untuk
memenuhi tugas mata kuliah IAD,IAD,ISD
Dosen Pengampuh:
Ali Muhajir,SE.MM
Tim Penyusun:
Achmad Asrori
Abu Hasan
M.Shoim
Sekolah
Tinggi Ilmu Raden Santri
Gresik
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam
perjalanan hidup manusia, tidak akan
pernah lepas dari yang namanya cinta. Cinta akan
selalu ada dalam suatu dimensi yang namanya
manusia. Manusia dicipta dengan penuh cinta, dan
tanpa cinta manusia tak akan lahir. Manusia
diciptakan di jagad bumi mengembangan cinta dari tuhan sebagai khalifah di muka bumi. Yang
menjadi pertanyaan besar sekarang ini adalah
pemaknaan akan cinta dalam realitas hidup ini.
Apakah cinta dimaknai sebagai sesuatu yang fitrah
yang mesti dijaga ataukah suatu wujud rasa yang
mesti diagungkan.
pernah lepas dari yang namanya cinta. Cinta akan
selalu ada dalam suatu dimensi yang namanya
manusia. Manusia dicipta dengan penuh cinta, dan
tanpa cinta manusia tak akan lahir. Manusia
diciptakan di jagad bumi mengembangan cinta dari tuhan sebagai khalifah di muka bumi. Yang
menjadi pertanyaan besar sekarang ini adalah
pemaknaan akan cinta dalam realitas hidup ini.
Apakah cinta dimaknai sebagai sesuatu yang fitrah
yang mesti dijaga ataukah suatu wujud rasa yang
mesti diagungkan.
Ketika
memberikan sebuah defenisi akan cinta,
akan lahir beberapa defenisi yang tentu saja akan
berbeda dari segi substansi atau hakikat cinta itu.
Hal ini dikarenakan sudut pandang yang berbeda
pula. Semakin tinggi tingkat pemahaman terhadap
suatu norma atau prilaku, akan semakin kompleks penjabaran defenisi itu.
akan lahir beberapa defenisi yang tentu saja akan
berbeda dari segi substansi atau hakikat cinta itu.
Hal ini dikarenakan sudut pandang yang berbeda
pula. Semakin tinggi tingkat pemahaman terhadap
suatu norma atau prilaku, akan semakin kompleks penjabaran defenisi itu.
Pemberian
pemaknaan akan cinta akan senasib
dengan pemberian defenisi tadi. Defenisi yang
akan mengantarkan pada suatu substansi kadang
dikaburkan oleh ego bahkan nafsu seseorang.
Pemaknaan yang salah sebagai sebuah aktualisasi
dari cinta seperti pacaran akan mengantarkan pada suatu upaya untuk mendeskreditkan cinta
yang luhur sebagai fitrah kemanusiaan. Disamping
itu, pemaknaan akan cinta dengan rasa suka harus
berani dibedakan.
dengan pemberian defenisi tadi. Defenisi yang
akan mengantarkan pada suatu substansi kadang
dikaburkan oleh ego bahkan nafsu seseorang.
Pemaknaan yang salah sebagai sebuah aktualisasi
dari cinta seperti pacaran akan mengantarkan pada suatu upaya untuk mendeskreditkan cinta
yang luhur sebagai fitrah kemanusiaan. Disamping
itu, pemaknaan akan cinta dengan rasa suka harus
berani dibedakan.
Cinta adalah fitrah yang sifatnya
abstrak sehingga perwujudannya berada dalam
area metafisik (inmaterial). Sedangkan rasa suka, adalah wujud rasa ketertarikan kepada hal yang
bersifat materi.
abstrak sehingga perwujudannya berada dalam
area metafisik (inmaterial). Sedangkan rasa suka, adalah wujud rasa ketertarikan kepada hal yang
bersifat materi.
B. Rumusan Masalah
Berdasar dari
latar belakang masalah di atas, maka
penulis merumuskan permasalahan sebagai
berikut.
penulis merumuskan permasalahan sebagai
berikut.
1. Bagaimana
pengertian cinta kasih?
2. Bagaimana
cinta menurut pandangan Islam
dan budaya?
dan budaya?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Cinta Kasih
Menurut
kamus umum bahasa Indonesia, cinta adalah rasa sangat suka kepada ataupun
rasa
sangat kasih atau sangat tertarik hatinya.
Sedangkan kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan
demikian arti cinta kasih hampir bersamaan,
sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir
bersamaan, namun terdapat perbedaan juga
antara keduanya, cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih lebih keluarnya; dengan kata lain bersumber dari
cinta yang mendalam itulah kasih dapat
diwujudkan secara nyata. Cinta memegang peranan penting dalam
kehidupan manusia, sebab cinta merupakan
landasan dalam kehidupan perkawinan,
pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak,
hubungan yang erat di masyarakat dan hubungan
manusiawi yang akrab.
sangat kasih atau sangat tertarik hatinya.
Sedangkan kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan
demikian arti cinta kasih hampir bersamaan,
sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir
bersamaan, namun terdapat perbedaan juga
antara keduanya, cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih lebih keluarnya; dengan kata lain bersumber dari
cinta yang mendalam itulah kasih dapat
diwujudkan secara nyata. Cinta memegang peranan penting dalam
kehidupan manusia, sebab cinta merupakan
landasan dalam kehidupan perkawinan,
pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak,
hubungan yang erat di masyarakat dan hubungan
manusiawi yang akrab.
Demikian
pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan
Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan
dengan ikhlas mengikuti perintah-Nya dan
berpegang teguh pada syariat-Nya. Pengertian tentang cinta dikemukakan juga oleh
Dr. Sarlito W. Sarwono. Dikatakannya bahwa cinta
memiliki tiga unsur yaitu keterkaitan, keintiman dan kemesraan.
Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan
dengan ikhlas mengikuti perintah-Nya dan
berpegang teguh pada syariat-Nya. Pengertian tentang cinta dikemukakan juga oleh
Dr. Sarlito W. Sarwono. Dikatakannya bahwa cinta
memiliki tiga unsur yaitu keterkaitan, keintiman dan kemesraan.
Yang
dimaksud dengan keterkaitan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama
dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau
pergi bersama orang lain kecuali dengan dia. Kalau
janji dengan dia harus ditepati.
pergi bersama orang lain kecuali dengan dia. Kalau
janji dengan dia harus ditepati.
Unsur
yang kedua
adalah keintiman, yaitu adanya kebiasaan- kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan
bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada
jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti
bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar
memanggil nama atau sebutan:sayang dan
sebagainya.
adalah keintiman, yaitu adanya kebiasaan- kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan
bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada
jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti
bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar
memanggil nama atau sebutan:sayang dan
sebagainya.
Unsur
yang ketiga adalah kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau
dibelai, rasa
kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu,
adanya ucapan-ucapan yang rnengungkapkan
rasa sayang, dan seterusnya.
kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu,
adanya ucapan-ucapan yang rnengungkapkan
rasa sayang, dan seterusnya.
Di
dalam kitab Suci Alqur’an, ditemukanya
fenomena cinta yang bersembunyi di dalam jiwa
manusia. Cinta memiliki tiga tingkatan-tingkatan :
tinggi, menengah dan rendah. Tingkatan cinta
tersebut di atas adalah berdasarkan firman Alloh
dalam surah At-Taubah ayat 24 yang artinya sebagai berikut:
fenomena cinta yang bersembunyi di dalam jiwa
manusia. Cinta memiliki tiga tingkatan-tingkatan :
tinggi, menengah dan rendah. Tingkatan cinta
tersebut di atas adalah berdasarkan firman Alloh
dalam surah At-Taubah ayat 24 yang artinya sebagai berikut:
katakanlah:jika
bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, istri-istri keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-
rumah tempat tinggal yang kamu sukai; adalah
lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai
Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
anak-anak, saudara-saudara, istri-istri keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-
rumah tempat tinggal yang kamu sukai; adalah
lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai
Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
B. Pembagian Cinta Menurut Pandangan Islam dan Budaya
Ada
yang berpendapat bahwa etika cinta dapat
dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan
agama. Tetapi dalam kenyataan hidup manusia
masih mendambakan tegaknya cinta dalam
kehidupan ini. Di satu pihak, cinta didengungkan
lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi di pihak lain dalam praktek kehidupan cinta
sebagai dasar kehidupan jauh dari kenyataan. Atas
dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada
manusia.
dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan
agama. Tetapi dalam kenyataan hidup manusia
masih mendambakan tegaknya cinta dalam
kehidupan ini. Di satu pihak, cinta didengungkan
lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi di pihak lain dalam praktek kehidupan cinta
sebagai dasar kehidupan jauh dari kenyataan. Atas
dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada
manusia.
Dalam
kehidupan manusia, cinta menampakkan
diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang
seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-
kadang mencintai orang lain. Atau juga istri dan
anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulnya.
Berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an.
diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang
seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-
kadang mencintai orang lain. Atau juga istri dan
anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulnya.
Berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an.
a. Cinta Diri
Cinta
diri erat kaitannya dengan dorongan
menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup,
mengembangkan potensi dirinya, dan
mengaktualisasikan diri. Pun ia mencintai segala
sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada
dirinya. Sebaliknya ia membenci segala sesuatu yang menghalanginya untuk hidup, berkembang
dan mengaktualisasikan diri. Ia juga membenci
segala sesuatu yang mendatangkan rasa sakit,
penyakit dan mara bahaya. Al-Qur’an telah
mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap
dirinya sendiri ini, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan
berguna bagi dirinya, dan menghindar dari segala
sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya,
melalui ucapan Nabi Muhammad SAW, bahwa
seandainya beliau mengetahui hal-hal gaib, tentu
beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala
keburukan.
menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup,
mengembangkan potensi dirinya, dan
mengaktualisasikan diri. Pun ia mencintai segala
sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada
dirinya. Sebaliknya ia membenci segala sesuatu yang menghalanginya untuk hidup, berkembang
dan mengaktualisasikan diri. Ia juga membenci
segala sesuatu yang mendatangkan rasa sakit,
penyakit dan mara bahaya. Al-Qur’an telah
mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap
dirinya sendiri ini, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan
berguna bagi dirinya, dan menghindar dari segala
sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya,
melalui ucapan Nabi Muhammad SAW, bahwa
seandainya beliau mengetahui hal-hal gaib, tentu
beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala
keburukan.
b. Cinta Kepada
Sesama
Manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh
keserasian dan keharmonisan dengan manusia
lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi
cintanya pada diri sendiri dan egoismenya. Pun
hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu
dengan cinta dan kasih sayang pada orang-orang lain, bekerja sama dengan dan memberi bantuan
kepada orang lain. Oleh karena itu, Allah ketika
memberi isyarat tentang kecintaan manusia pada
dirinya sendiri, seperti yang tampak pada keluh
kesahnya apabila ia tertimpa kesusahan dan
usahanya yang terus menerus untuk memperoleh kebaikan serta kebakhilannya dalam memberikan
sebagian karunia yang diperolehnya, setelah itu
Allah langsung memberi pujian kepada orang-
orang yang berusaha untuk tidak berlebih-lebihan
dalam cintanya kepada diri sendiri dan melepaskan
diri dari gejala-gejala itu adalah dengan melalui iman, menegakkan shalat, memberikan zakat,
bersedekah kepada orang-orang miskin dan tak
punya dan menjauhi segala larangan Allah.
keserasian dan keharmonisan dengan manusia
lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi
cintanya pada diri sendiri dan egoismenya. Pun
hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu
dengan cinta dan kasih sayang pada orang-orang lain, bekerja sama dengan dan memberi bantuan
kepada orang lain. Oleh karena itu, Allah ketika
memberi isyarat tentang kecintaan manusia pada
dirinya sendiri, seperti yang tampak pada keluh
kesahnya apabila ia tertimpa kesusahan dan
usahanya yang terus menerus untuk memperoleh kebaikan serta kebakhilannya dalam memberikan
sebagian karunia yang diperolehnya, setelah itu
Allah langsung memberi pujian kepada orang-
orang yang berusaha untuk tidak berlebih-lebihan
dalam cintanya kepada diri sendiri dan melepaskan
diri dari gejala-gejala itu adalah dengan melalui iman, menegakkan shalat, memberikan zakat,
bersedekah kepada orang-orang miskin dan tak
punya dan menjauhi segala larangan Allah.
Keimanan
yang demikian ini akan bisa
menyeimbangkan antara cintanya kepada diri
sendiri dan cintanya pada orang lain, dan dengan demikian akan bisa merealisasikan kebaikan
individu dan masyarakat. Al-Qur’an juga menyeru kepada orang-orang yang
beriman agan saling cinta-mencintai seperti cinta
mereka pada diri mereka sendiri. Dalam seruan itu
sesungguhnya terkandung pengarahan kepada
para mukmin agar tidak berlebih-lebihan dalam
mencintai diri sendiri.
menyeimbangkan antara cintanya kepada diri
sendiri dan cintanya pada orang lain, dan dengan demikian akan bisa merealisasikan kebaikan
individu dan masyarakat. Al-Qur’an juga menyeru kepada orang-orang yang
beriman agan saling cinta-mencintai seperti cinta
mereka pada diri mereka sendiri. Dalam seruan itu
sesungguhnya terkandung pengarahan kepada
para mukmin agar tidak berlebih-lebihan dalam
mencintai diri sendiri.
c. Cinta seksual
Cinta
erat kaitannya dengan dorongan seksual.
Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih
sayang, keserasian, dan kerja sama antara suami
dan istri. Ia merupakan faktor yang primer bagi
kelangsungan hidup keluarga : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu Istri-istri dan jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir. (QS, Ar-Rum,
30:21)
Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih
sayang, keserasian, dan kerja sama antara suami
dan istri. Ia merupakan faktor yang primer bagi
kelangsungan hidup keluarga : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu Istri-istri dan jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir. (QS, Ar-Rum,
30:21)
Dorongan
seksual melakukan suatu fungsi
penting. yaitu melahirkan keturunan demi
kelangsungan jenis. Lewat dorongan seksual lah
terbentuk keluarga. Dari keluarga terbentuk
masyarakat dan bangsa. Dengan demikian bumi
pun menjadi ramai, bangsa-bangsa saling kenal mengenal, kebudayaan berkembang, dan ilmu
pengetahuan dan industri menjadi maju. Islam
mengakui dorongan seksual dan tidak
mengingkarinya. Jelas dengan sendirinya ia
mengakui pula cinta seksual yang menyertai
dorongan tersebut. Sebab ia merupakan emosi alamiah dalam diri manusia yang tidak diingkari,
tidak ditentang ataupun ditekannya. Yang
diserukan Islam hanyalah pengendalian dan
penguasaan cinta ini, lewat pemenuhan dorongan
tersebut dengan cam yang sah, yaitu dengan
perkawinan.
penting. yaitu melahirkan keturunan demi
kelangsungan jenis. Lewat dorongan seksual lah
terbentuk keluarga. Dari keluarga terbentuk
masyarakat dan bangsa. Dengan demikian bumi
pun menjadi ramai, bangsa-bangsa saling kenal mengenal, kebudayaan berkembang, dan ilmu
pengetahuan dan industri menjadi maju. Islam
mengakui dorongan seksual dan tidak
mengingkarinya. Jelas dengan sendirinya ia
mengakui pula cinta seksual yang menyertai
dorongan tersebut. Sebab ia merupakan emosi alamiah dalam diri manusia yang tidak diingkari,
tidak ditentang ataupun ditekannya. Yang
diserukan Islam hanyalah pengendalian dan
penguasaan cinta ini, lewat pemenuhan dorongan
tersebut dengan cam yang sah, yaitu dengan
perkawinan.
d. Cinta kepada Allah
Puncak
cinta manusia, yang paling bening, jernih
dan spiritual ialah cintanya kepada Allah dan
kerinduannya kepada-Nya. Tidak hanya dalam
shalat, pujian, dan doanya saja, tetapi juga dalam
semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua
tingkah laku dan tindakannya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridho-Nya:
“Katakan1ah: Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu. Allah maha
pengampun lagi maha penyayang” (QS, Mi Imran,
3:31). Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah
akan membuat cinta itu menjadi kekuatan
pendorong yang mengarahkannya dalam
kehidupannya dan menundukkan semua bentuk
kecintaan lainnya. Cinta ini pun juga akan
membuatnya menjadi seorang yang cinta pada sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah dan
seluruh alam semesta. Sebab dalam pandangannya
semua wujud yang ada di sekelilingnya
mempunyai manifestasi dari Tuhannya yang
membangkitkan kerinduan-kerinduan spiritualnya
dan harapan kalbunya.
dan spiritual ialah cintanya kepada Allah dan
kerinduannya kepada-Nya. Tidak hanya dalam
shalat, pujian, dan doanya saja, tetapi juga dalam
semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua
tingkah laku dan tindakannya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridho-Nya:
“Katakan1ah: Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu. Allah maha
pengampun lagi maha penyayang” (QS, Mi Imran,
3:31). Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah
akan membuat cinta itu menjadi kekuatan
pendorong yang mengarahkannya dalam
kehidupannya dan menundukkan semua bentuk
kecintaan lainnya. Cinta ini pun juga akan
membuatnya menjadi seorang yang cinta pada sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah dan
seluruh alam semesta. Sebab dalam pandangannya
semua wujud yang ada di sekelilingnya
mempunyai manifestasi dari Tuhannya yang
membangkitkan kerinduan-kerinduan spiritualnya
dan harapan kalbunya.
e. Cinta Kepada Rasul
Cinta
kepada rasul, yang diutus Allah sebagai
rahmah bagi seluruh alam semesta, menduduki
peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah.
rahmah bagi seluruh alam semesta, menduduki
peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Cinta
kasih mengandung arti hampir bersamaan,
namun terdapat perbedaan juga antara keduanya,
cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya
rasa, sedangkan kasih lebih keluarnya; dengan
kata lain bersumber dari cinta yang mendalam
itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.
namun terdapat perbedaan juga antara keduanya,
cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya
rasa, sedangkan kasih lebih keluarnya; dengan
kata lain bersumber dari cinta yang mendalam
itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.
Dalam
kehidupan manusia, cinta menampakkan
diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang
seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-
kadang mencintai orang lain. Atau juga istri dan
anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulnya.
Berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an.
diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang
seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-
kadang mencintai orang lain. Atau juga istri dan
anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulnya.
Berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an.
1. Cinta diri
2. Cinta kepada
sesama manusia
3. Cinta seksual
4. Cinta kepada
Allah
5. Cinta kepada
Rasul
DAFTAR PUSTAKA
Asy’arrie, Musa.
Manusia Pembentuk Kebudayaan
dalam Al-Que’an: Lembaga Studi Filsafat,
Yogyakarta. 1992.
dalam Al-Que’an: Lembaga Studi Filsafat,
Yogyakarta. 1992.
Mastopo, M.
Habib. Manusia dan budaya kumpulan
Esay: Usaha Nasional, Surabaya. 1990.
Esay: Usaha Nasional, Surabaya. 1990.
MP. Suyadi. Ilmu
Budaya Dasar: PT. Karunia, Jakarta.
1990.
1990.
http://suzudinata.mywapblog.com

No comments:
Post a Comment