MAKALAH MATERI PAI
MA
TENTANG PRINSIP MOTIVASI BELAJAR
Di Ajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah MATERI PAI
Dosen
Pengampuh
Abdul
Kholiq, S.H. I
Penyusun
Achmad Asrori
Sekolah Tinggi
Ilmu Tarbiyah
Raden Santri
Gresik
PEMBAHASAN
Pengertian dan Prinsip Motivasi
Belajar
Pengertian Motivasi
Istilah motivasi menunjuk kepada
semua gejala yang tekandung dalam stimulasi tindakaan ke arah tujuan tertentu
di mana sebelumnya tidak ada gerakan menuju ke arah tujuan tersebut. Motivasi
dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif di luar diri
individu atau hadiah. Sebagai suatu masalah di dalam kelas, motivasi adalah
proses membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat.
Suatu prinsip yang mendasari
tingkah laku ialah bahwa individu selalu mengambil jalan terpendek menuju suatu
tujuan. Orang dewasa mungkin berpandangan bahwa di dalam kelas para siswa harus
mengabdikan dirinya kepada penguasaan kurikulum. Akan tetapi, para siswa tidak
selalu melihat tugas-tugas sekolah sebagai jalan terbaik yang menuju kearah
kebebasan, produktivitas, kedewasaan, atau apa saja yang dipandang mereka
sebagai perkembangan yang disukai. Dalam hubungan ini tugas guru adalah
menolong mereka untuk memilih topik, kegiatan, atau tujuan yang bermanfaat,
baik untuk jangka panjang maupun untuk jangka pendek.
Prinsip Motivasi
Prinsip ini disusun atas dasar
penelitian yang seksama dalam rangka mendorong motivasi belajar para siswa di
sekolah berdsarkan pandangan demokratis. Ada 17 prinsip motivasi yang dapat
dilaksanakan:
1. Pujian lebih efektif daripada
hukuman. Hukuman bersifat menghentikan suatu perbuatan, sedangkan pujian
bersifat menghargai apa yang telah dilakukan. Oleh karena itu, pujian lebih
besar nilainya bagi motivasi belajar.
2. Semua siswa mempunyai
kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) yang harus mendapat pemuasan.
Kebutuhan-kebutuhan itu menyatakan diri dalam berbagai bentuk yang berbeda.
Para siswa yang dapat memenuhi kebutuhannya secara efektif melalui
kegiatan-kegiatan belajar hanya memerlukan sedikit bantuan dalam motivasi dan
disiplin.
3. Motivasi yang berasal dari
dalam individu lebih efektif daripada motivasi yang dipaksakan dari luar.
Kepuasan yang didapat oleh individu itu sesuai dengan ukuran yang ada di dalam
dirinya sendiri.
4. Jawaban (perbuatan) yang
serasi (sesuai dengan keinginan) memerluakn usaha penguatan (reinformancement).
Apabila suatu perbuatan belajar mencapai tujuan, maka perbuatan itu perlu
segera diulang kembali beberapa menit kemudian sehingga hasilnya lebih mantap.
Penguatan ini perlu dilakukan dalam setiap tingkatan pengalaman belajar.
5. Motivasi mudah menjalar luas
terhadap orang lain. Guru yang berminat tinggi dan antusias akan mempengaruhi
para siswa sehigga mereka juga berminat tinggi dan antusias. Siswa yang
antusias akan mendorong motivasi para siswa lainnya.
6. Pemahaman yang jelas tentang
tujuan belajar akan merangsang motivasi. Apabila seseorang telah menyadari
tujuan yang hendak dicapainya, perbuatannya kearah itu akan lebih besar daya
dorongnya.
7. Tugas-tugas yang besumber dari
diri sendiri akan menimbulkan minat yang lebih besar untuk mengerjakannya
ketimbang bila tugas-tugas itu dipaksakan oleh guru. Apabila siswa diberi
kesempatan untuk menemukan masalah sendiri dan memecahkannya sendiri, ia akan
mengembangkan motivasi ddan disiplin yang lebih baik.
8. Pujian-pujian yang datangnya
dari luar (external rewards) kadang-kadang diperlukan dan cukup efektif untuk
merangsang minat yang sebenarnya. Berkat dorongan orang lain, misalnya untuk
memperoleh angka yang tinggi, siswa akan berusaha lebih giat karena minatnya
menjadi lebih besar.
9. Teknik dan prosedur mengajar
yang bermacam-macam itu efektif untuk memelihara minat siswa. Cara mengajar
yang bervariasi ini akan meimbulkan situasi belajar yang menantang dan
menyenangkan.
10. Minat khusus yang dimiliki
oleh siswa berdaya guna untuk mempelajari hal-hal lainnya. Minat khusus yang
telah dimiliki oleh siswa, misalnya minat bermain bola basket, akan mudah
ditransferkan kepada minat dalam bidang studi atau dihubungkan dengan masalah
tertentu dalam bidang studi.
11. Kegiatan-kegiatan yang dapat merangsang minat para siswa
yang tergolong kurang tidak ada artinya bagi para siswa yang tergolong pandai.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan tingkat abilitas pada siswa tersebut. Oleh
karena itu, guru yang hendak membangkitkan minat para siswanya hendaknya
menyesuaikan usahanya dengan kondisi yang ada pada mereka.
12. Tekanan dari kelompok siswa umumnya lebih efketif dalam
memotivasi dibandingkan dengan tekanan atau paksaan dari orang dewasa.
13. Motivasi erat hubungannya dengan kreativitas siswa.
Dengan teknik mengajar tertentu, motivasi siswa dapat diarahkan kepada
kegiatan-kegiatan kreatif. Motivasi yang telah dimiliki oleh siswa, apabila
diberi semacam hambatan, misalnya adanya ujian yang mendadak, peraturan
sekolah, kreativitasnya akan meningkat sehinga dia lolos dari hambatan itu.
14. Kecemasan akan meimbulkan kesulitan belajar. Kecemasan
ini akan mengganggu perbuatan belajar sebab akan mengakibatkan pindahnya
perhatiannya kepada hal lain sehingga kegiatan belajarnya menjadi tidak
efketif.
15. Kecemasan dan frustasi dapat membantu siswa berbuat
lebih baik. Emosi yang lemah dapat menimbulkan perbuatan yang lebih energetik,
kelakuan yang lebih bergairah.
16. Tugas yang terlalu sukar dapat mengakibatkan frustasi
sehingga dapat menuju kepada demoralisasi. Karena terlalu sulitnya tugas itu,
para siswa cenderung melakukan hal-hal yang tidak wajar sebagai manifestasi
dari frustasi yang terkandung didalam dirinya.
17. Tiap siswa mempunyai tingkat frustasi dan toleransi yang
berlain-lainan. Ada siswa yang kegagalannya justru menimbulkan insentif, tetapi
ada anak yang selalu berhasil malahan menjadi cemas terhadap kemungkinan
timbulnya kegagalan. Hal ini bergantung pada stabilitas emosi masing-masing.

No comments:
Post a Comment